psikologi kreativitas

bagaimana otak menggabungkan ide acak menjadi inovasi besar

psikologi kreativitas
I

Pernahkah kita duduk menatap layar kosong berjam-jam, menunggu ide brilian turun dari langit? Kita menekan dahi, minum kopi gelas ketiga, tapi yang keluar cuma rasa frustrasi yang melelahkan. Lalu, saat kita menyerah, menutup laptop, dan masuk ke kamar mandi, tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang muncul begitu saja bersamaan dengan guyuran air. Kenapa bisa begitu? Cerita tentang kreativitas sering kali dibalut oleh mitos yang berlebihan. Kita terbiasa membayangkan sosok jenius seperti Isaac Newton yang kejatuhan apel, lalu seketika itu juga menemukan teori gravitasi. Seolah-olah inovasi adalah sihir yang hanya diwariskan pada segelintir orang pilihan. Padahal, kalau kita mau membedah isi kepala manusia dari kacamata neurosains, kreativitas sama sekali bukan sihir. Ia adalah proses biologi dan psikologi yang luar biasa berantakan. Dan bagian paling menyenangkannya? Proses berantakan ini sangat bisa kita retas bersama.

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu untuk melihat bagaimana ide berantakan ini bekerja. Johannes Gutenberg tidak bangun tidur pada suatu pagi dan langsung menggambar rancangan mesin cetak. Saat itu, dia sebenarnya sedang mengamati mesin pemeras anggur (wine press) dan alat pencetak koin logam. Di dalam kepalanya, dua benda yang secara fungsi sama sekali tidak berhubungan itu bertabrakan. Hasilnya? Sebuah mesin cetak yang memicu revolusi literasi di seluruh dunia. Pertanyaannya, bagaimana otak Gutenberg bisa menggabungkan perasan anggur dan koin menjadi buku? Otak kita ini sebenarnya mirip sebuah gudang penyimpanan raksasa. Setiap kali kita membaca buku aneh, menonton film, atau sekadar ngobrol dengan orang asing di kereta, kita sedang menaruh satu "titik data" baru di dalam gudang tersebut. Masalahnya, ketika kita sedang terdesak butuh ide, kita sering memaksakan diri mencari di rak yang itu-itu saja. Dalam psikologi, fenomena jalan buntu ini disebut fiksasi fungsional (functional fixedness). Pada dasarnya, otak kita itu efisien tapi malas. Ia lebih suka menggunakan jalan pintas dan melihat fungsi benda seperti yang selama ini ia kenal, daripada bersusah payah membangun sirkuit saraf yang baru.

III

Kalau otak kita memang punya kecenderungan untuk malas dan kaku, lalu bagaimana inovasi-inovasi besar bisa lahir? Di sinilah sains menjadi sangat menarik. Teman-teman, mari berkenalan dengan dua "mandor" utama yang mengatur lalu lintas di kepala kita. Mandor pertama bernama Jaringan Kontrol Eksekutif (Executive Control Network). Dia ini mandor yang tegas, sangat fokus, dan logis. Dialah yang mengambil alih saat kita mengisi tabel Excel atau mencoba memecahkan masalah matematika yang rumit. Sementara itu, mandor kedua bernama Jaringan Mode Asal (Default Mode Network atau DMN). Dia ini kebalikannya. Sangat santai, suka melamun, dan hobi membongkar-bongkar memori acak justru saat kita sedang mandi, mencuci piring, atau jalan kaki. Selama ini kita didoktrin bahwa untuk menjadi kreatif, kita harus menyuruh mandor pertama bekerja sekeras mungkin. Kita memaksa diri untuk fokus. Tapi, pernahkah teman-teman berpikir, apa yang terjadi kalau fokus yang berlebihan itu justru membunuh kreativitas kita? Bagaimana jika si mandor tegas tadi sebenarnya sedang mengunci pintu, menghalangi sang mandor kedua yang sebenarnya jauh lebih jago meracik ide?

IV

Jawaban dari pertanyaan itu membawa kita pada sebuah rahasia besar yang disebut Percampuran Konseptual (Conceptual Blending). Inilah momen puncak terjadinya sebuah inovasi. Saat kita berhenti memaksa mandor pertama untuk fokus dan mulai membiarkan tubuh kita rileks, mandor kedua (DMN) mulai mengambil alih kendali. DMN ini ibarat pustakawan yang berjalan-jalan di gudang memori kita yang gelap dengan membawa senter. Dia mengambil satu titik data dari rak biologi, memadukannya dengan titik data dari rak teknologi mesin, lalu melihat apakah keduanya bisa menyatu. Fakta ilmiahnya, inovasi besar hampir tidak pernah diciptakan dari ruang hampa. Inovasi adalah kemampuan otak mengawinkan dua ide lama menjadi satu ide baru yang revolusioner. Contohnya, George de Mestral menemukan perekat Velcro karena dia mengamati struktur duri tanaman yang menempel erat di bulu anjingnya, lalu menggabungkannya dengan konsep ritsleting baju. Saat DMN berhasil menemukan kecocokan yang pas dari ide-ide acak ini, ia mengirimkan sinyal kejutan ke otak sadar kita. Ding! Itulah momen epik saat kita berteriak kegirangan di kamar mandi tadi. Otak sadar kita mengira ide itu turun dari langit. Padahal, alam bawah sadar kita sudah bekerja lembur di belakang layar untuk menjahit konsep-konsep tersebut.

V

Mengetahui fakta neurologis ini seharusnya membuat kita semua merasa jauh lebih lega. Kita tidak perlu menjadi mutan ber-IQ tinggi untuk bisa menghasilkan karya yang kreatif. Kita hanya perlu memberi makan otak kita dengan pengalaman yang kaya dan beragam. Bacalah buku di luar bidang pekerjaan kita. Tontonlah dokumenter sejarah yang mungkin terasa asing. Dengarkan cerita dari orang yang jauh lebih tua atau jauh lebih muda dari kita. Semakin banyak titik data acak yang kita kumpulkan, semakin banyak pula bahan baku yang bisa diolah oleh otak bawah sadar kita. Jadi, teman-teman, kalau hari ini kalian merasa buntu dan ide tak kunjung datang, berhentilah menyiksa diri di depan layar yang menyala. Tutup laptop itu sejenak. Pergilah keluar, berjalan kakilah tanpa membawa ponsel, atau seduhlah secangkir teh panas. Biarkan otakmu melamun, mengembara, dan bermain dengan memori. Terkadang, ironisnya, cara paling ilmiah untuk menyelesaikan masalah yang paling rumit adalah dengan berhenti memikirkannya sama sekali.